Kamis, 06 Januari 2011

BUDIDAYA KERBAU RAWA LEWAT KAWIN SUNTIK


INFO TERNAK :

Dinas Kehutanan Peternakan dan Perikanan (Hutnakkan) Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan berhasil mengembangkan Inseminasi Buatan (IB) atau kawin suntik bagi kerbau rawa.

Keberhasilan kawin suntik bagi kerbau rawa itu untuk pertama kalinya dan mungkin baru di daerah ini yang berhasil melakukan kawin suntik dan bahkan kemungkinan bukan cuma se HST atau se-Kalsel, tapi juga se-Indonesia. Demikian kata Kepala Dinas Hutnakkan HST, Ahmad Syahrani Effendi, Selasa.

IB merupakan sistem baru yang coba dikembangkan untuk pembiakan hewan dengan cara kawin suntik, khusus kerbau baru di HST. Bekerjasama dengan Balai Inseminasi Buatan (BIB) Banjarbaru dan Kelompok Peternak Kerbau Rawa yang ada di HST, pihaknya secara gigih mencoba mengembangkan IB bagi Kerbau rawa yang banyak terdapat di wilayah Kecamatan Labuan Amas Utara (LAU) atau Desa Sungai Buluh.

Uji coba itu terbukti berhasil dan kini beberapa kerbau rawa yang dilakukan IB, telah melahirkan beberapa ekor anak. Kerbau rawa termasuk salah satu hewan yang sulit dikembangkan dan setiap hamil, kerbau rawa hanya mampu melahirkan satu anak.

IB pada kerbau selama ini dianggap sulit karena birahi pada jenis ternak besar tersebut sulit diketahui. Banyak pakar menganjurkan agar budidaya kerbau dilaksanakan dengan Intensifikasi Kawin Alam (INKA).

Dengan INKA, harus dilakukan pengadaan dan penyebaran kerbau jantan, sementara jumlah kerbau jantan di kalangan peternak kerbau sangat sedikit dan pengadaan kerbau jantan sulit diwujudkan, karena terbatasnya dana pemerintah untuk pengadaan ternak. Dengan keberhasilan IB oleh Dinas Hutnakkan HST, memberikan peluang bagi pengembangan dan budi daya kerbau rawa.

Kepala Bidang (Kabid) Peternakan Dinas Hutnakan HST, Fatoni Zulkarnaen berharap, keberhasilan itu dibarengi dengan kemauan masyarakat untuk lebih mengembangkan kerbau rawa. “Ke depan perlu dipikirkan, bagaimana meningkatkan kesadaran masyarakat agar mengubah pola beternak kerbau menjadi lebih intensif dan efisien,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kesadaran itu antara lain dengan menggembalakan ternak di padang pengembalaan berupa kawasan rawa yang mudah dijangkau petugas kesehatan hewan atau inseminator. Dengan begitu, pemeriksaan induk, penyuntikan hormon dan pelaksanaan IB dapat berjalan lebih cepat, sehingga bisa lebih banyak ternak yang dilayani dan hemat biaya.

Meneropong Kelompok Ternak Kerbau Rawa Teluk Ridan

Hari tampak mendung ketika rombongan Humas dan Protokol Kutai Kartanegara yang dipimpin Sri Wahyuni bergerak ke Desa Pulau Harapan untuk melihat peternakan Kerbau Rawa (B. Bubalis Carabenesis) atau kerbau liar (Bubalis Amee). Perjalanan terasa mengasikkan, karena sepanjang jalan banyak ditemui aktivitas warga yang mencari ikan dengan berbagai cara, ada yang memancing, menggunakan bubu, tempirai, ancau dan lain-lain.

Setengah jam berlalu hujan pun turun deras, bersamaan dengan hujan turun tampak panggung luas ditepi sungai yang diatasnya terlihat berdesakan Kerbau berkulit gelap. Terlihat seorang pria paruh baya menyusun rumput dipinggir panggung kerbau tersebut.

Ya, ternyata rombongan telah tiba di Peternakan Kerbau Rawa milik kelompok ternak Teluk Ridan Desa Pulau harapan Muara Muntai yang merupakan kawasan komoditas ternak Kerbau Rawa kabuaten Kukar.
Long Boat langsung merapat menghampiri pria yang basah akibat hujan tersebut, Daud namanya. Daud adalah satu dari sepuluh orang yang bertugas mengembala kerbau-kerbau rawa tersebut.

Kerbau dewasa dilepas kerawa dan danau untuk mencari makan sendiri
“Tak tau pasti berapa ekor kerbau di kalang (panggung tempat kerbau.red) ini, yang jelas lebih dari 500 ekor,” ujar Daud sambil menysun rumput dipingir kalang kerbau.
Setelah itu dikatakannya, jika ingin tahu lebih banyak tentang Kerbau Rawa atau kerbau kalang di peternakan itu dirinya menyarankan agar menunggu sejenak Ketua Kelompok Ternak Teluk Ridan yang rutin datang ke Kalang setiap pagi.

Rombongan Humas pun dipersilahkannya menunggu di pondok ukuran 3×3 meter yang terletak kira-kira 15 meter dari Kalang Kerbau. Menurut Daud pondok itu merupakan tempat beristirahat bagi dirinya dan rekan-rekan sesama penggembala Kerbau.
Hujan pun belum berhenti dan masih lebat sembari duduk-duduk dipondok sambil mengawasi tingkah laku kerbau di Kalang, tampak beberapa rekan Daud dengan masing-masing menngendarai perahu ketinting yang sarat akan muatan rumput pakan Kerbau berdatangan.

Rumput-rumput dari Ketinting itu diratakan dan disebar di setaip sisi luar Kalang. Berbekal sebatang kayu sebesar jari telunjuk dengan panjang kurang lebih 2 meter, Daud dan rekannya tampak memisahkan anak kerbau dengan kerbau dewasa dengan sedikit memukul-mukul punggung kerbau.

Tampak anak-anak kerbau dikumpulkan pada sisi Kalang yang sudah disebar rumput, dan kerbau dewasa dengan tanduk panjang lebih dari 50 cm di pindahkan kesisi lainnya yang tidak diberi rumput pakanan.

Kasubag Data Informasi Bagian Humas dan Protokol, Rianto yang juga ikut pada perjalanan tersebut langsung memanggil ketua Kelompok peternak tersebut.
Bergegas Ketua Kelompok ternak Teluk Ridan, H Basnan menghampiri pondok tempat rombongan Humas dan Protokol yang lengkap dengan camera video dan photo berkumpul.
“Saya basah ini, kotor lagi tidak enak menemui tamu dengan keadaan begini,” ujarnya sambil memegangi bajunya, dari atas perahunya yang telah berada tepat dipintu pondok.

Dengan sedikit dipaksa H Basnan, akhirnya mau masuk dipondok menemui Rombongan Humas dan Protokol. Dikatakannya bahwa beruntung Rombongan Humas datang pada waktu air sedang pasang, karena jika air pasang kerbau akan dinaikkan ke Kalang.
Sedangkan air pasang didaerah tersebut hanya dua kali setahun, selebihnya sepanjang musim air surut kerbau tidak berada di Kalang namun di rawa-rawa dan danau sekitar desa Desa Pulau Harapan. Jadi hanya dua kali dalam setahun kerbau berada di Kalang selama air pasang.

“Pas dinaikkan ke Kalang, baru kelihatan induk kerbau sudah pulang masing-masing bawa seekor anak hasil pembiyakan alami selama dilepas,” paparnya.
Kembali ditanyakan kepada H Basnan tentang berapa jumlah Kerbau Rawa, dijawabnya pada thaun 2008 lalu keseluruhannya berjumlah 400 ekor. Setiap tahunnya paling sedikit bertambah 100 kerbau hasil perkembang biakan alami.
“Jadi kira-kira sekarang lebih dari 600 ekor kerbau disini, milik 30 orang anggota kelompok saya,” ujar H Basnan yang ternyata juga Kepala Desa Pulau Harapan.

Hasilkan Rp 120 juta per tahun

Ketua Kelompok ternak Teluk Ridan, H Basnan yang juga Kades Pulau Harapan ikut mengurus kerbaunya saat pagi hari DALAM setahun kelompok Kerbau Rawa milik kelompok ternak Teluk Ridan Desa Pulau harapan Muara Muntai, rata-rata terjual 50 ekor.
Ketua kelompok ternak Kerbau Teluk Ridan H Basnan mengatakan, pembelinya langsung datang ke Kalang.

“Yang beli itu orang dari Kalimantan Selatan, dan langsung dibawa kesana (Kalsel.Red) dalam kedaan hidup, jadi tidak di sembelih disini,” ungkapnya.
Menurutnya, pembeli Kerbau datang saat musim Kerbau naik Kalang saat air pasang pertama, yaitu sekitar bulan Januari.
Dikataknnya bahwa, harga jual Kerbau dewasa bermur 2,5 sampai 3 tahun rata-rata per ekornya Rp 12 juta. Kerbau milik H Basnan sendiri berjumlah 60 ekor dan dalam setahun terjual 10 ekor, jadi dalam setahun dirinya meraup Rp 120 juta.

“Alhamdulillah dari hasil kerbau ini, tahun 1990 saya dan isteri pergi Haji, anak-anak saya sudah sarjana dan jadi-jadi semua,” ungkapnya.
Saat ditanya waktu membagi tugasnya sebagai Kepala Desa dan peternak, dijelaskannya bahwa pagi-pagi waktu untuk mengurus kerbau setelah itu baru ke Kantor.
Saat ditanya kesulitan memelihara Kerbau, dijawabnya memelihara kerbau hanya perlu ketekunan dan kesabaran. Apa lagi saat air pasang tiba, perlu perlakuan ekstra terutama pada anak-anak kerbau yng harus tetap tinggal di Kalang, dan konsekwensinya adalah mengambilkan pakan.
“Pakannya ya rumput di sekitar danau ini, tinggal potong saja tak perlu keluar biaya, yang penting tekun,” ujarnya.

Asal Usul Kerbau Rawa Teluk Ridan

Setahu H Basnan yang merupakan Ketua kelompok ternak teluk Ridan, Kerbau Rawa sudah ada didesanya sebelum tahun 1950, asalnya yaitu dari Desa Bentian Besar dengan jumlah 50 ekor. Yang disebutnya sebagai generasi pertama dari keluarganya yang beternak Kerbau itu.

Lalu pada tahun 1965 memasuki generasi ke dua, setelah itu pada generasi ke tiga yaitu oleh orang tua H Basnan pada thun 1975 mulai di bangun kalang.
“Saat itu saya masih muda tapi sudah bantu orang tua, saya ingat tahun 75 itu bangun kalang dari ulin, selain dari biaya kelompok juga dibantu pemerintah,” papar H Basnan yang juga Kades Pulau Harapan Muara Kaman itu.

H Basnan selanjutnya mengatakan dirinya sendiri adalah genersi keempat, mulai terjun langsung saat orang tuanya meninggal pada tahun 1979, dan H Basnan yang meneruskan peternakan tersebut berasama kelompoknya.

Peternakannya juga pernah menerima bantuan dari Pemerintah, diantaranya pada tahun 1990 oleh pemerintah pusat dibantu sembilan ekor induk kerbau, dan sudah berhasil dikembang biakkan dan dikembalikan pada tahun 1995. Pada tahun 1996 datang lagi bantuan pemerintah, sebanyak 50 ekor.

“2006 oleh pemerintah pusat dibantu dana Rp 280 Juta, dana itu digunakan untuk membeli bibit ternak.Sampai sekarang jumlah Kerbau disini menjadi 600 an ekor,” paparnya.

Lebih lanjut dijelaskannya, Pemkab Kukar belum lama ini memberikan bantuan pembuatan kalang berukuran 6 x 40 meter. Jadi saat ini luas Kalang peternakan teluk ridan seluruhnya berukuran 6 x 200 meter.

Peternakan Teluk Ridan juga pernah ditinjau dan diplajari oleh peternak dari Mataram, Universitas Airlangga, dari Bogor.

“Mereka juga magang beberapa minggu disini,” jelasnya.
Mengenai penyakit Kerbau, dijelaskannya sepuluh tahun terakhir ini tidak ada kejadian luar biasa tentang penyakit. Pemkab melalui Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan kerap datang ke peternakannya dan memeriksa kesehatan Kerbau nya.

Tearkhir kali, pada tahun 1990 terjadi kejadian luar biasa kerbau mati hingga 70 ekor. “Saat itu pas datang bibit dari Donggala, tak berapa lama setelah dikumpulkan dengan Kerbau asli sini, eh … malah mati sampai 70 ekor,” ungkapnya.

Dijelaskannya penyebab dari kematian itu adalah penyakit Sura atau bisa juga disebut penyakit tujuh keliling. Gejalanya, kerbau terlihat gelisah dan hiper aktif lalu berputar-putar hingga akhirnya mati.
Suasana duka pun pernah menyelimuti peternakan Kerbau Rawa Teluk Ridan, H Basnan mengatakan tahun 1990 salah seorang anggotanya tewas ditanduk kerbau.
“Kejadiannya di kalang ini, padahal teman saya hanya lewat disamping kerbau yang baru melahirkan. Tiba-tiba kerbau itu langsung mengaitkan tanduknya diperut rekan saya, kejadiannya tiba tiba dan cepat,” demikian ujarnya.

600 Kerbau Digembalakan 10 Orang

Usai panjang lebar berbincang mengeni Kerbau, H Basnan kembali melanjutkan paktivitasnya dan masuk ke Kalang. Kerbau dewasa yang telah dipisahkan dari anak kerbau siap turun untuk digembalakan, tampak ratusan kerbau dewasa dengan tanduk panjang sebesar lengan orang dewasa yang melengkung berberais dan berdesakan dipintu kalang. Anak-anak kerbau tetap tinggal di kalang yang sudah disediakan makanan.
“Anaknya tidak dikeluarkan karena belum mahir berenang, saat ini air dirawa tinggi,” ujarnya.

Saat pintu Kalang dibuka, Kerbau tersebut langsung terjun kesungai. Kerbau pun berenang, tak disangka hewan berbobot hingga 500 kg perekor mampu berenang. Kerbau-kerbau itu langsung melahap daun pepohonan dan tumbuhan lainnya yang berada disekitar kalang yang berada diatas air.
Setelah semua kerbau keluar, sepuluh pengembala termasuh Daud (orang pertama yang kami temu di Kalang) tampak berada dibelakang kerbau-kerbau tersebut. Dengan galah bamboo sepanjang lima meter yang ujungnya di beri kayu bercabang, Daud dan rekannya menggiring kerbau dewasa itu kerawa-rawa yang lumayan jauh dari Kalang.
Pemandangan luar biasa terjadi saat itu, teringat film Cowboy yang menggembalakan ternaknya dari atas kuda. Namun, di peternakan kerbau rawa Teluk Ridan penggembala menggembalakan ternak dari atas perahu dengan berbekal galah untuk mengarhkan kerbau-kerbaunya.

“Kami bersepuluh, setiap orang rata-rata menggembala 60 ekor kerbau. Kami bawa kerbau kerawa disana untuk makan,” ujar Daud sambil sibuk mengarahkan kerbau-kerbaunya.
Mirip jalanan yang sedang padat kendaraan, sungai selebar lima meter yang menjadi perlintasan kerbau tampak sesak oleh kerbau yang menuju rawa tempat dimana biasa mereka digembalakan. Hanya kepala-kepala kerbau yang tampak dipermukaan sungai, tubuhnya tenggelam diair saat hewan itu berenang. Setelah menyaksikan hal itu, Rombongan Humas pun bergerak kembali menuju Kota Bangun.

Sumber : http://matanews.com
http://www.vivaborneo.com

Flag Visitor

free counters